Indonesia Heritage Gathering 2012

Heritage is property assets and welfare of civilization. Protection and conservation of this valuable assets needs a set of efforts by entire societies. “Temu Pusaka Indonesia” (TPI) gives some opportunities for all heritage enthusiasts from all over Indonesia to meet and exchange their experience on facing the challenges in conserving and preserving heritage at their place. Besides that, through this activity we can also improve public awareness on preserving heritage and also to promote the action to protect and conserve as if to save from its vulnerability.

In 2012, Surabaya as the city host of Temu Pusaka Indonesia proudly chose “Pusaka Rakyat: Pelestarian Kampong beserta Lingkungan dan Budayanya” as the theme of Temu Pusaka Indonesia. This topic was chosen in order to reminisce the heritage which gets abandoned and forgotten whereas it surrounds us. The heritage is Kampong. As the time goes by, there are many kampong that disappears and only a few of Kampong remains exist. There are a lot of perception and assumption in the name of modernity, giving a view that kampong is conservative and out of date, so kampong needs to redesign. Moreover, there is a negative stigma about kampong, that is “kampugan”, which stressing this entity to be abolished. Whereas kampong has its own characteristic, history, and living. Even kampong is heritage for Indonesian people. This is the place where Indonesian urban civilization begins. Kampong contains a lot of knowledge from across generation. So if a city lost its kampong is like a tree without its roots. That’s what makes kampong important for environment and culture in Indonesia.

 

Temu Pusaka Indonesia 2012

Pusaka (heritage) adalah aset kekayaan dan kemakmuran bersama sebuah peradaban. Perlindungan dan pelestarian aset yang bernilai ini membutuhkan rangkaian upaya dari segenap lapisan masyarakat. Temu Pusaka Indonesia memberikan kesempatan kepada para pelestari dan pemerhati pelestarian pusaka dari berbagai daerah untuk bertemu, bersilaturahmi dan saling bertukar pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan yang tidak sama antara daerah satu dengan lainnya. Disamping itu melalui kegiatan Temu Pusaka Indonesia kita terus bisa melakukan peningkatan kepedulian masyarakat tentang keragaman pusaka serta mendorong terus tindakan aksi yang dibutuhkan untuk melindungi dan melestarikannya, sebagaimana halnya membuka mata kita untuk menyelamatkan kerentanannya.

Pada tahun 2012, Kota Surabaya sebagai tuan rumah Temu Pusaka Indonesia dengan bangga mengusung tema “Pusaka Rakyat: Pelestarian Kampung beserta Lingkungan dan Budayanya”. Topik ini diangkat untuk mengingatkan kembali Pusaka yang sering kali terabaikan dan terlupakan padahal berada di sekitar kita yakni Kampung. Dalam perkembangan seiring perubahan Nusantara menuju Indonesia, tentu saja ada kampung yang hilang, namun tak sedikit pula yang bertahan. Banyak persepsi maupun asumsi atas nama modernitas, melihat kampung sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman, perlu ditata sedemikian rupa. Muncul juga ungkapan kampungan yang berkonotasi negatif, seolah menguatkan bahwa entitas ini layak untuk dihilangkan. Padahal kampung memiliki karakteristiknya sendiri, memiliki sejarahnya sendiri, dan memiliki kehidupannya sendiri. Bahkan kampung adalah pusaka bagi rakyat Indonesia. Di kampunglah jejak–jejak peradaban masyarakat urban Indonesia bermula. Dalam kampung juga tersimpan banyak pengetahuan dan pengalaman komunitas perkotaan membangun kehidupannya dari generasi ke generasi. Maka kehilangan kampung bagi kota, ibarat pohon kehilangan akarnya. Di sinilah letak penting pelestarian keberadaan kampung, baik lingkungan maupun budayanya.