World Heritage Day 2013

The year of 2013 was the last first decade Heritage Conservation in Indonesia. World heritage day on April 18th 2013 was celebrated in Trowulan, East Java. The event that opened on April 17th 2013 held at Community Center of Bejijong Village was attended by more than 200 guests. World Heritage Day 2013 Opening Ceremony was also attended by Chairman of Board Director of BPPI, I Gede Ardika; Mojokerto Regent represented by Vice Regent of Mojokerto, Mrs. Choirun Nisa and 7th Deputy of Ministry of People’s Welfare, Sujana Royat.

The second event after World Heritage Day 2013 Opening Ceremony was Majapahit conservation discussion “Siapa telah melakukan Apa” (Who did What). The discussion was conducted in multi-purpose room of BP3 Office, East Java, which resulted in some important points.

  1. A lot of research has done, especially archeological research in Trowulan heritage district. The earliest research, which the researcher attend the discussion, has already done in 1979. Followed by research project that has done by Tim Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala from Directorate General of Culture, Department of Education and Culture. This research produce Archeology Master Plan (RIA) of Former Majapahit Capital City. Unfortunately, recommendations from this research was not implemented. The RIA was also need revision considering this research was done in 1983-1985.
  2. The latest archeological research was Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (Indonesian Integrated Archeological Research). According to the team, this research was an example of good research because this research involved 4 universities in Indonesia that have archeology science major. This research was conducted in full support from Yayasan Arsari Djojohadikusumo.
  3. Other research came from Indonesian Institute of Science (LIPI). The research team did socio-cultural research of Trowulan people. Furthermore, Indonesian Art Institute (ISI Yogyakarta) often conducting art performance especially dance of Majapahit history play and involving Trowulan people.
  4. Trowulan people and surrounding more active in art and tourism. There are many art studios in Trowulan and Mojokerto Regency generally attempt to conserve Majapahit heritage. Besides, there are people that’s hoping conservation is not always archeological. It’s possible there can be a community effort to explore Majapahit heritage tradition for contemporer activity, for example by making a regulation of Majapahit wedding dress.
  5. There is need to be some sort of network that connect much conservation attempt which has done by local people or by professionals.

Next event is Trowulan Heritage Trail. Heritage trail is an activity that give new insight about heritage district in some areas. The awaited event by World Heritage Day participants started with visiting Ngliguk Site, Tikus Temple, Brahu Temple, Menak Jingga Temple, Segara Pond and Sasono Bhakti.

Highlight event of World Heritage Day celebration conducted on April 18th 2013 at Brajang Ratu Temple. The event was opened with Bedoyo Majapahit dance. This dance is an opening act to greet the VIP guests in the era of Majapahit.  This event was also attended by Secretary of Mojokerto Regency, Directorate General of Culture; Department of Education and Culture, Kacung Marijan and Secretary of East Java Province that represent the East Java Governor. The event was enlivened by Dr. Ayu Bulantrisna Djelantik who danced Legong Keraton

Event continued with Heritage Dialogue which was held in Segaran Site. In which resulted some points, such as:

  • There is common needs between stakeholders to pursue Majapahit heritage site preservation. Government representation appearance is highlighted as the interesting part in this dialogue.
  • Individual awareness needs to be enhanced as a part of responsibility for heritage preservation in this area.
  • As a follow up from Temu Pusaka in year 2012, such an opinion that special authority is needed to handle heritage preservation needs to be further assessed. Especially how this authority can handle some existing interests.
  • For the early step, needs an inventory for things related to heritage preservation, such as, who did what, what kind of stakeholder’s interest in this area, etc. Such a networking which recommended from discussion result the day before, can be empowered to take this steps,
  • Majapahit Preservation Network or Jaringan Pelestarian Majapahit is needed for Majapahit heritage site preservation to be more integrated, sustainable, and beneficial for people.

 

Hari Pusaka Dunia 2013

Tahun 2013 merupakan tahun terakhir dekade pertama Pelestarian Pusaka di Indonesia. Hari Pusaka Dunia yang jatuh pada tanggal 18 April dirayakan secara meriah di Trowulan, Jawa Timur. Acara yang dibuka pada tanggal 17 April 2013 bertempat di Balai Desa Bejijong dan dihadiri lebih dari 200 orang tamu undangan. Pembukaan Hari Pusaka Dunia 2013 turut dihadiri oleh Ketua Dewan Pimpinan BPPI, I Gede Ardika; Bapak Bupati Mojokerto, yang diwakili oleh Wakil Bupati Kabupaten Mojokerto, Ibu Choirun Nisa; dan Deputi VII Kemenkokesra, Sujana Royat.

Acara kedua setelah acara Pembukaan Hari Pusaka Dunia Tahun 2013 adalah Diskusi pelestarian Majapahit “Siapa Telah Melakukan Apa”. Diskusi Pelestarian yang diselenggarakan di Ruang Serbaguna Kantor BP3 Jatim menghasilkan beberapa poin penting, yaitu:

  • Telah banyak dilakukan penelitian khususnya penelitian arkeologis di kawasan pusaka Trowulan. Penelitian paling awal yang telah dilakukan para peneliti yang hadir pada diskusi ini yaitu pada tahun 1979. Kemudian disusul dengan proyek penelitian yang dilakukan oleh Tim Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Penelitian ini menghasilkan Rencana Induk Arkeologi (RIA) Bekas Kota Kerajaan Majapahit. Namun sayang sekali, banyak rekomendasi dari penelitian ini tidak diimplementasikan. Diperlukan juga revisi atas RIA ini mengingat penelitian tersebut dilakukan medio tahun 1983–1985.
  • Penelitian arkeologi termutakhir adalah Penelitan Arkeologi Terpadu Indonesia. Menurut Tim ini, penelitian ini merupakan suatu contoh penelitian yang baik karena melibatkan 4 universitas di Indonesia yang terdapat jurusan ilmu Arkeologi. Penelitian ini berlangsung atas dukungan penuh dari Yayasan Arsari Djojohadikusumo.
  • Penelitan lainnya datang dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tim penelitian ini melakukan penelitian sosial budaya masyarakat Trowulan. Selain itu, dari Institut Seni Indonesia Jogjakarta sering mengadakan pertunjukan kesenian khususnya tari dengan lakon–lakon dari sejarah Majapahit dan melibatkan masyarakat Trowulan juga.
  • Masyarakat Trowulan dan sekitarnya lebih banyak berkegiatan di bidang seni dan pariwisata. Terdapat beberapa sanggar kesenian di Trowulan dan kabupaten Mojokerto pada umumnya yang berupaya melestarikan pusaka Majapahit. Selain itu, ada masyarakat yang berharap bahwa pelestarian tidak melulu pada yang sesuatu yang bersifat arkeologis saja. Bisa jadi terdapat upaya masyarakat untuk menggali tradisi pusaka Majapahit untuk kegiatan kontemporer, misalnya dengan membuat pakem baju pengantin Majapahit.
  • Perlu adanya semacam jejaring yang menghubungkan banyaknya upaya pelestarian yang telah dilakukan baik oleh masyarakat sekitar maupun khalayak profesional yang lebih luas.

Acara berikutnya adalah Jelajah Pusaka Trowulan, jelajah pusaka merupakan sebuah kegiatan yang dapat memberikan wawasan baru mengenai kawasan pusaka yang terdapat disuatu daerah. Acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh para peserta HPD dimulai dengan mengunjungi Situs Nglinguk, Candi Tikus, Candi Brahu, Candi Menak Jingga, Kolam Segara, dan Sasono Bhakti.

Acara puncak peringatan Hari Pusaka Dunia 2013 diaksanakan pada tanggal 18 April 2013 bertempat di Candi Brajang Ratu. Acara dibuka dengan tarian Bedoyo Majapahit. Tarian ini merupakan merupakan tarian pembuka menyambut tamu-tamu penting pada zaman kerajaan Majapahit. Acara ini turut dihadiri oleh Sekda Kabupaten Mojokerto; Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kacung Marijan; serta Sekda  Provinsi Jawa Timur yang mewakili Gubernur Jawa Timur. Acara dimeriahkan oleh Dr. Ayu Bulantrisna Djelantik yang menarikan Tari Legong Keraton.

Acara dilanjutkan dengan Dialog Pusaka yang dilaksanakan di Situs Segaran. Dialog tersebut mengahsilkan beberapa poin, antara lain:

  • Adanya keinginan bersama dari para pemangku kepentingan untuk mengupayakan pelestarian situs pusaka Majapahit. Hal yang menarik dalam dialog ini karena perwakilan pemerintah hadir juga di sini.
  • Perlunya kesadaran masing–masing pihak untuk saling berbagi tanggung jawab atas pelestarian pusaka di kawasan ini.
  • Menindaklanjuti hasil Temu Pusaka tahun 2012, perlunya otorita khusus yang menangani pelestarian pusaka ini perlu kajian lebih lanjut. Bagaimana otorita ini mampu mengakomodasi berbagai kepentingan yang ada.
  • Sebagai langkah awal, perlu adanya inventarisasi berbagai hal terkait pelestarian pusaka ini, misal seperti siapa telah melakukan apa, apa saja kepentingan masing–masing aktor di kawasan ini, dan sebagainya. Jejaring yang menjadi rekomendasi hasil diskusi sehari yang lalu, bisa dimanfaatkan untuk menjalankan langkah ini.
  • Jaringan Pelestarian Majapahit diperlukan agar upaya pelestarian situs pusaka Majapahit semakin terintegrasi, berkesinambungan dan bermanfaat bagi masyarakat.

 

hpd 2013 (2) hpd 2013 (1)